Rabu, 22 Oktober 2025

Hari Santri, Do'a dan Ulang Tahun untuk Pekon Way Empulau Ulu


Pagi tadi (22/10), di Pekon Way Empulau Ulu, udara dingin menusuk lembut dari dataran setinggi 902 mdpl, membawa aroma tanah basah dan semangat yang tak lekang oleh usia. Pekon yang berdiri di tepian hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan itu merayakan dua hal sekaligus. Ulang tahun ke-66 dan peringatan Hari Santri. Dua perayaan yang berbeda makna, namun sama-sama berakar pada iman dan kebersamaan.

Halaman depan Balai Pekon dipenuhi undangan. Hadir seluruh Aparatur Pemerintah Pekon, LHP, Pemerintah Kecamatan, Tim Pendamping Desa, Babinkamtibmas, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, para Peratin tetangga dari Pekon Gunung Sugih dan Pekon Sebarus, Ibu-ibu Kelompok Pengajian, serta barisan santri-santriwati yang duduk rapi bersarung dan berkerudung. 

Acara dimulai dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh bapak Ujang. Suaranya tenang, mengalir seperti sungai yang memberi nama bagi Pekon ini. Way Empulau, tempat sungai-sungai kecil bertemu dan membentuk satu aliran kehidupan.

Dalam sambutan hangatnya, Peratin Pekon Way Empulau Ulu, Akhmad Kasmanto menyampaikan sejarah panjang pekon ini. Konon, dahulu di wilayah Skala Brak, beberapa sungai kecil. Way Gegahan, Way Sirang, dan Way Sebaubi bertemu di satu hilir hingga membentuk satu sungai besar berbentuk pulau kecil. Dari sanalah nama Way Empulau Ulu lahir. 

Tahun 1959 menjadi titik sejarah, saat Dewan Negeri Skala Brak memutuskan pemekaran beberapa pekon lama, seperti Suka Marga, Kesugihan Lama, dan Negeri Agung. Dari musyawarah itulah, lahir desa baru bernama Way Empulau Ulu, dan pada 1 Oktober 1959, Yazid Bustami dilantik sebagai kepala kampung pertama.

Sejak saat itu, sejarah Way Empulau Ulu mengalir sebagaimana sungainya, kadang deras, kadang tenang, tapi tak pernah berhenti. Sepuluh pemimpin telah silih berganti, membawa pekon ini dari masa ladang dan hutan hingga kini berdiri sekolah, rumah ibadah, dan jalan yang tak lagi becek. 

Hingga pada 31 Agustus 2024, dalam Musyawarah Adat (Hippun) bersama tokoh masyarakat dan pemerintah pekon, disepakati bahwa hari lahir resmi Way Empulau Ulu adalah 1 Oktober 1959, hari yang kini diperingati bukan hanya sebagai tanggal, tetapi juga sebagai identitas.

Selanjutnya inti acara berupa pengajian akbar, dipimpin oleh ustadz Ahyar yang menyampaikan banyak pesan, nasehat untuk selalu bersyukur dan menerima nikmat allah swt, nasehat untuk pemimpin yang adil, dan nasehat untuk tidak hanya bisa membaca kitab, tapi juga mampu membaca keadaan. Ceramahnya ditutup dengan do'a-do'a terbaik untuk Pekon Way Empulau Ulu.

Ketika acara berakhir dan ramah tamah dimulai, kopi hitam disajikan di cangkir-cangkir, pisang goreng, selimpok, dadar gulung, berkeliling bersama canda ringan. Di kota, mungkin ulang tahun berarti tiup lilin. Tapi di sini, ulang tahun berarti doa, sejarah, dan tawa yang jujur.

Way Empulau Ulu pagi tadi tidak sekedar memperingati usia. Ia sedang merayakan dirinya sendiri, ditanah yang dulu sunyi, kini hidup oleh generasi yang sadar akan akar dan sejarahnya. Dan di antara sejuk udara 902 meter itu, seolah terdengar bisikan sungai, bahwa pekon yang mengingat asalnya, tak akan kehilangan arah masa depannya. (*)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hari Santri, Do'a dan Ulang Tahun untuk Pekon Way Empulau Ulu

Pagi tadi (22/10), di Pekon Way Empulau Ulu, udara dingin menusuk lembut dari dataran setinggi 902 mdpl, membawa aroma tanah basah dan seman...